Cerita Komodo Resort

Pertama kali kami tiba di Labuan Bajo, pintu utama alami dari Kepulauan Komodo, adalah melalui jalur laut. Rasa penasaran atas komodo dragon adalah alasan utama kami datang. Informasi terbatas yang kami punya hanya sebatas komodo dragon dan dimana untuk melihat dan cara pergi ke sana. Kami sama sekali tidak punya pengalaman di wilayah ini dan alam sekitarnya. Keindahan pemandangan di Kepulauan Komodo benar-benar di luar ekspektasi kami sekalipun kami sudah cukup terbiasa dengan keindahan alam Indonesia. Pulau-pulau yang berbukit terjal dengan tebing yang menjorok ke arah laut yang ditumbuhi pepohonan dan rerumputan hijau. Terbentuk dari aktivitas vulkanis, ribuan pulau ini muncul ke permukaan laut yang jernih dengan air berwarna biru.

Kami tiba pada saat matahari hampir terbenam. Rasa lelah setelah sepuluh hari mengarungi lautan dengan kapal nelayan dan tidur di atas papan kayu dek yang keras, serta memakan ikan, nasi dan sayuran dari hasil barter dengan penduduk setempat. Kami berlayar di lautan utara Pulau Flores, mulai dari Riung dan berhenti di beberapa tempat untuk snorkelling di spot yang direkomendasikan pemilik kapal. Perjalanan yang seharusnya tiga hari menjadi semakin panjang. Keinginan untuk minimum bir dan makan di atas meja makan semakin kuat sehingga kami memutuskan untuk menginap di hotel. Kemudian kami pergi ke restoran lokal di atas bukit dekat pelabuhan Labuan Bajo tanpa menyadari pemandangan di sekitar kami. Sambil menempati meja makan, akhirnya kami benar-benar melihat apa yang ada di depan kami di teras restoran tersebut. Teluk Labuan Bajo dikelilingi warna hijau, biru dan ribuan warna matahari terbenam yang menyatu dengan bentuk pulau-pulau di sekitarnya. Sebuah lukisan dari seniman gila yang memiliki terlalu banyak warna pada paletnya.

“Kami adalah orang yang beruntung” kata saya kepada pemilik restoran yang datang menemui kami. “Mengapa?” jawabnya dengan penasaran. “Maaf, Saya hanya terlalu romantic dan tidak setiap hari Saya dapat menyaksikan matahari terbenam seindah ini.” “Apa maksud Anda?” balasnya. “Matahari terbenam seindah ini bukanlah hal biasa.” Saya berusaha menekankan perkataan saya. “Jadi Anda datang dari tempat di mana malam berlangsung selama enam bulan dan siang pada enam bulan lainnya. Di sini, matahari terbenam setiap senja.” Saya masih berusaha menjelaskan, “Ya tapi semua warna-warna itu?” “Ini hanya senja seperti biasa. Apakah Anda mau memesan minuman?” Kami hanya diam dan memesan dua bir.

Kami berhenti di sana selama sepuluh hari dari yang awalnya direncanakan hanya dua hari. Sebagian besar kepulauan kami kunjungi dan ketika kami memakai mask, kami bertanya-tanya pemandangan mana yang lebih baik. Di atas atau di dalam air.

Tahun-tahun berikutnya, kami sering datang kembali ke Komodo. Setiap kali pekerjaan saya sebagai pedagang barang seni membawa saya ke Indonesia, saya selalu mampir ke Komodo untuk bersantai selama beberapa hari. Stefano, seorang teman dan tour leader, juga sering menemui saya di sana. Anehnya, tempat ini semakin menarik bagi kami setiap kali kami berkunjung. Penduduk lokal secara sadar berusaha untuk memelihara tempat fantastis mereka. Kampanye mereka untuk melawan penangkapan ikan dengan bahan peledak memberikan hasil yang baik dan daerah yang terpengaruh kondisinya sudah semakin baik. Populasi satwa liar seperti rusa, babi hutan dan kerbau juga semakin meningkat karena pencegahan perburuan liar. Komodo yang ajaib pun menerima dampak yang positif dengan banyaknya sumber makanan sehingga mengurangi risiko kepunahan.

Pada bulan Mei 2009, selama kunjungan singkat ke daerah ini, saya menerima kabar bahwa Sebayur, salah satu pulau yang menakjubkan sedan dijual. Saya sedang bepergian dengan pendamping saya untuk menikmat waktu romantis namun berita ini mengubah segalanya. Dia memandang saya dengan rasa tidak percaya ketika saya mengambil tindakan untuk mendapatkan informasi penting untuk proses negosiasi. Ide yang terpendam di dalam benak saya sejak lama akhirnya muncul dan mulai terealisasi menjadi rencana yang matang.

Malam itu juga saya menghubungi Stefano untuk memberi tahu kabar tersebut. “Sebayur di Komodo? Berapa yang mereka minta?” katanya dengan singkat. “Belum pasti tetapi Saya yakin bisa diatur.” kata saya.

Kami tidak pernah membicarakan hal ini dengan serius. Sebelumnya, kami hanya berandai-andai untuk berhenti dari pekerjaan kami dan mendirikan sebuah dive resort di suatu tempat, mungkin Komodo. Namun hal itu hanya sebatas mimpi dan imajinasi kami daripada sebuah rencana nyata. Percaya atau tidak, di saat telepon yang singkat tersebut, kami mengambil keputusan. Stefano setuju lalu kami sepakat untuk menanggapi hal ini dengan serius hingga selesai.

Hari ini setelah sepuluh tahun dari telepon tersebut, dengan bantuan dan dukungan dari dua teman kami Daniele dan Paola, Komodo Resort telah menjadi kenyataan. Kami yakin ini adalah ide yang fantastis terutama karena proyek ini sangat menghargai lingkungan dan menjadi suatu tempat yang nyaman. Tahun ini kami bekerja keras dan mengikuti secara dekat proses pembangunan Komodo Resort. Banyak hal yang telah kami capai dan akan ada banyak lagi di masa depan seperti membangun panel Surya dengan kapasitas 20 KWP di tahun 2012.

Ketika berlayar dari jauh, Anda hampir tidak dapat melihat Komodo Resort. Pulaunya masih terlihat liar dan tidak diduduki, bangunannya menyatu dengan alam sekitarnya. Kamuflase ini menjadikan kami bangga atas seluruh kerja keras kami. Latar belakang pulau yang menakjubkan senantiasa menjaga keindahan pemandangan di dalam laut. Bagian kecil laut yang belum sepenuhnya dijelajahi ini merupakan salah satu dasar laut terindah di dunia. Itu sebabnya beberapa tahun kemudian, UNESCO menjadikan Komodo sebagai Situs Warisan Alam Dunia dan Cagar Biosfer.